Penulis : Muh. Fitrah Ramadhan Umar, Andi Besse Opu, Puji Rahayu,
Ai Febriani Chaeril, dan A. Guruh Rangga Putra
Penyunting : Sitti Habibah
Tahun Terbit : Januari 2026
Ketebalan : 52 Hal
Ukuran : 15,5 x 23 cm (Unesco)
ISBN : 978-634-7063-61-8
Harga : -
Sinopsis: Buku "Discover the Unseen Corners of the City" mengajak pembaca untuk menelusuri sisi-sisi Kota Makassar yang kerap luput dari perhatian, namun memegang peranan vital dalam membentuk identitas kota. Narasi dimulai dengan melihat transformasi Makassar dari masa kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo sebagai pusat perdagangan maritim internasional hingga menjadi kota metropolitan terbesar di Kawasan Timur Indonesia saat ini yang menyeimbangkan modernisasi dengan pelestarian sejarah.
Penulis membawa pembaca dalam perjalanan visual dan naratif melintasi berbagai situs bersejarah dan cagar budaya. Jejak kolonial dan kerajaan terekam jelas dalam pembahasan mengenai Benteng Rotterdam yang utuh, Benteng Somba Opu sebagai pusat niaga masa lalu, serta Museum La Galigo dan Balla Lompoa yang menyimpan memori kebesaran budaya Gowa. Buku ini juga mengangkat arsitektur vernakular melalui Rumah Panggung Pesisir Tallo yang beradaptasi dengan lingkungan maritim.
Sisi spiritual dan keberagaman kota digambarkan melalui ikon-ikon religius lintas zaman dan keyakinan, mulai dari Masjid Tua Katangka sebagai simbol awal Islam , Klenteng Ibu Agung Bahari yang merefleksikan budaya Tionghoa pesisir, Gereja Katedral yang bersejarah , hingga ikon modern Masjid 99 Kubah karya Ridwan Kamil.
Selain itu, buku ini merekam jejak perjuangan bangsa melalui monumen-monumen penting seperti Monumen Mandala, Monumen Korban 40.000 Jiwa, dan Taman Makam Pahlawan Panaikang. Dinamika sosial ekonomi masyarakat pesisir juga diangkat melalui aktivitas di Pelabuhan Paotere dan Pantai Losari, serta kawasan modern Centre Point of Indonesia (CPI).
Sebagai penutup yang menggugah selera, buku ini menyajikan kekayaan kuliner legendaris Makassar. Pembaca diperkenalkan pada sejarah dan kelezatan hidangan khas seperti Coto Makassar, Pallubasa, Sop Konro, Mie Titi, hingga jajanan manis seperti Pisang Ijo, Jalangkote, Pisang Epe, dan Kue Buroncong. Buku ini bukan sekadar panduan wisata, melainkan sebuah dokumentasi memori kolektif tentang wajah Makassar yang autentik